Tampilkan postingan dengan label Atsar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Atsar. Tampilkan semua postingan

Jagalah Pendengaran

Posted by Abu Mumtazah Senin, 14 Januari 2013 0 komentar

Oleh : Ustadz Abu Humaid

Dari Nafi’ maula Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu “Bahwasannya Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu pernah mendengar suara seruling seorang penggembala. Maka beliau (Ibnu Umar) meletakkan kedua jarinya di telinganya lalu mencari jalan lain. Ibnu Umar berkata : ‘Wahai Nafi’! apakah kamu mendengar suara ini?’ maka aku menjawab : ‘ya’ dan beliau selalu mengatakan demikian, sampai aku mengatakan, ‘saya tidak mendengar lagi!’ Lalu Ibnu Umar kembali kejalan yang semula. Kemudian berkatalah Ibnu Umar ‘Saya pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seruling penggembala lalu beliau melakukan seperti ini’” (Atsar Shahih, Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 4535-4965, Abu Dawud: 4924, al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubro1/222, dan Ibnu Hibban dalam shahihnya 2/468/693, al-Ajurri dalam Tahrimun Nardi wa Syatronji no. 64. Dan atsar ini dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh al Albani dalam Tahrimu Alatu Thorbi hlm. 116)

Fiqh Atsar
Atsar ini menunjukkan betapa besarnya semangat para sahabat dalam menjaga pendengaran, diantaranya tidak mendengarkan alunan musik, serta selalu beruswah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Anehnya atsar ini kadang malah dijadikan dalil tentang bolehnya mendengar nyanyian. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa 30/212:
Hadits tersebut -jika memang shohih- maka tidak bisa dijadikan dalil dibolehkannya mendengarkan nyanyian dan musik, bahkan larangan tersebut lebih utama dikarenakan beberapa segi :
  1. Yang diharamkan adalah “mendengarkan” bukan hanya sekedar “mendengar”. Seseorang jika mendengar kekufuran, ucapan dusta, ghibab (gunjingan), celaan, serta musik dan nyanyian tanpa adanya niat dan maksut untuk mendengarkan –seperti seseorang yang hanya sekedar lewat jalan tersebut lalu mendengar suara nyanyian- maka orang tersebut mendapatkan dosa dengan kesepakatan kaum muslimin. Dan kalau seandainya ada seseorang berjalan lalu mendengar bacaan al-Qur’an tanpa mendengarkannya terhadap bacaannya tersebut maka dia tidak mendapatkan pahala. Dan dia akan mendapatkan pahala jika dia mendengarkan dan memperhatikan bacaan tersebut yang ia maksudkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu itu keduanya hanya sekedar melewati jalan tersebut tanpa ada niatan mendengarkan nyanyian, begitu juga apa yang dilakukan oleh Ibnu Umar dan Nafi’.
  2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyumbat kedua telinga karena beliau sangat menjaga pendengrannya supaya tidak mendengar suara nyanyian sama sekali. Kalau seandainya suara tersebut boleh didengar maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyumbat tlinga. Hal ini menunjukkan mendengarkan serta menikmatinya itu lebih terlarang.
Wallahu A’lam

Sumber : Majalah Al Furqon edisi 04

Baca Selengkapnya ....

Sekadar Niat Baik Saja Tidak Cukup

Posted by Abu Mumtazah Kamis, 20 Desember 2012 0 komentar

Oleh : Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi

Dari Sa’id bin Musayyib, ia melihat seorang laki-laki menunaikan sholat setelah fajar lebih dari dua roka’at, ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Maka Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu bertanya, “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab sholat?” Beliau menjawab, “Tidak, tetapi Alloh akan menyiksamu karena menyelisihi Sunnah.”

TAKHRIJ ATSAR
SHOHIH. Dikeluarkan oleh ad-Darimi dalam Musnad-nya: 1/404/450, al-Baihaqi dalam Sunan Kubra: 2/466, dan Abdurrozzaq dalam al-Mushonnaf no. 4755 dari jalur Sufyan dari Abu Robah dari Sa’id. Sanad atsar ini dishohihkan oleh al-Albani dalam Irwa’ul Gholil: 2/236. Dan diriwayatkan juga oleh al-Khotib al-Baghdadi dalam al-Faqih wal Mutafaqqih: 1/381 dari jalur Makhlad bin Malik dari Athof bin Kholid dari Abdrurrohman bin Harmalah dari Sa’id dengan sanad Hasan.1

FIQIH ATSAR
Syaih Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah mengomentari atsar ini dalam kitabnya, Irwa’ul Gholil (2/236), “Ini adalah jawaban Sa’id bin Musayyib2 yang sangat indah. Dan merupakan senjata pamungkas terhadap para ahlul bid’ah yang menganggap baik kebanyakan bid’ah  dengan alasan dzikir dan sholat, kemudian membantai Ahlus Sunnah dan menuduh bahwa mereka (Ahlus Sunnah) mengingkari dzikir dan sholat! Padahal sebenarnya yang mereka ingkari adalah penyelewengan ahlul bid’ah dari tuntunan Rosul shallallahu ‘alihi wa sallam dalam dzikir, sholat, dan lain-lain.”

Jadi, agar amal ibadah kita diterima oleh Alloh, bukan hanya dengan modal niat yang baik dan keikhlasan, melainkan juga harus sesuai dengan tuntunan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam Maka sudah semestinya bagi kita untuk menggali ilmu agar amalan ibadah yang kita lakukan betul-betul sesuai dengan tuntunan beliau. Semoga Alloh menerima amal ibadah kita semua.

1 Dinukil dari Silsilah atsar ash-shohihah karya Abu Abdillah ad-Dani: 1/58, cet, Dar Atsariyyah.
2 Berkata al-Fasii dalam ‘Aqdu Tsamin tentang nama Sa’id radhiallahu ‘anhu “Yang masyhur adalah dengan memfathah huruf ya’ (Baca : Musayyab), namun penduduk Madinah berpendapat dengan mengkasroh huruf ya’ (baca: Musayyib).” (Dinukil dari Dhobthu al-A’lam hlm. 191 karya Ahmad Taimur Basya).

Sumber : Majalah Al Furqon, Edisi 07 Shofar 1432 

Artikel : http://jadwalkajiansunnah.blogspot.com/  

Baca Selengkapnya ....
Jual Jilbab Syar'i, Gamis Akhwat dan Ikhwan dll support Jual Mainan Anak Playpad - Original design by Bamz | Copyright of Faidah Kajian Sunnah .