Info Pengajian Sunnah Untuk Wilayah Cianjur dan Sekitarnya

Posted by Abu Mumtazah Sabtu, 01 Desember 2012 0 komentar
Info Pengajian Sunnah di Cianjur
InsyaAllah Jadwal Kajian Ilmiyah di Cianjur dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Ahad di Masjid Al Bayang Pasir Hapa Cianjur (Sekitar 50M Belakang Terminal Jebrod) , berikut ini jadwalnya :

  1. Sabtu 01 Desember '12 Oleh Ust. Abu Haidar As Sundawi Membahas Kitab Tauhid (09.00-12.00)
  2. Ahad 02 Desember '12 Oleh Ust. Ihsan Membahas Kitab Fiqh Asmaul Husna (09.00-12.00) 
  3. Ahad 08 Desember '12 Oleh Ust. Ade Hermansyah, Lc Membahas Kitab Dzikir (Ibnul Qoyyim) (09.00-12.00)
  4. Ahad 09 Desember '12 Oleh Ust. DR. Erwandi Tarmizi Membahas Fiqih Kontemporer (09.00-12.00)
  5. Ahad 15 Desember '12 Oleh Ust. Abu Haidar Membahas Kitab Tauhid (09.00-12.00)
  6. Ahad 16 Desember '12 Oleh Ust. Falah Membahas Hadist Arbain An Nawawi (09.00-12.00)
  7. Ahad 22 Desember '12 Oleh Ust. Cecep Abu Ja’far, Lc Membahas Tafsir Juz ‘Amma (09.00-12.00)
  8. Ahad 23 Desember '12 Oleh Ust. Abu Rizal Fadilah Membahas Tazkiyatunnufuz (09.00-12.00)
  9. Ahad 29 Desember '12 Oleh Ust. Abu Yahya Badrussalam, Lc. Tematik (09.00-12.00)
  10. Ahad 30 Desember '12 Oleh Ust. Ihsan Membahas Kitab Fiqh Asmaul Husna (09.00-12.00) 
Kajian Ilmiah Islam ini terbuka untuk umum, Ikhwan dan Akhwat. Mari ajak segera sanak keluarga tetangga anda untuk mengikuti kajian sunnah di cianjur ini dengan mengharap ridho Allah 'Azza wa jalla

Mari kita membiasakan diri untuk terus Menutut Ilmu Syar'i. Karena menuntut Ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 224), dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3913). Diriwayatkan pula oleh Imam-imam ahli hadits yang lainnya dari beberapa Shahabat seperti ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id al-Khudri, dan al-Husain bin ‘Ali radhiyallaahu ‘anhum)

Imam al-Qurthubi rahimahullaah menjelaskan bahwa hukum menuntut ilmu terbagi dua:

Pertama, hukumnya wajib; seperti menuntut ilmu tentang shalat, zakat, dan puasa. Inilah yang dimaksudkan dalam riwayat yang menyatakan bahwa menuntut ilmu itu (hukumnya) wajib.

Kedua, hukumnya fardhu kifayah; seperti menuntut ilmu tentang pembagian berbagai hak, tentang pelaksanaan hukum hadd (qishas, cambuk, potong tangan dan lainnya), cara mendamaikan orang yang bersengketa, dan semisalnya. Sebab, tidak mungkin semua orang dapat mempelajarinya dan apabila diwajibkan bagi setiap orang tidak akan mungkin semua orang bisa melakukannya, atau bahkan mungkin dapat menghambat jalan hidup mereka. Karenanya, hanya beberapa orang tertentu sajalah yang diberikan kemudahan oleh Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya. 

Dengan menuntut ilmu, Allah akan mudahkan jalan menuju surga bagi kita, seperti sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berikut : 

Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) atas orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah memudahkan atasnya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah menutupi (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut senantiasa menolong saudaranya. Barangsiapa yang meniti suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tidak dapat dikejar dengan nasabnya.” (Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2699), Ahmad (II/252, 325), Abu Dawud (no. 3643), At-Tirmidzi (no. 2646), Ibnu Majah (no. 225), dan Ibnu Hibban (no. 78-Mawaarid), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lafazh ini milik Muslim).

Di dalam hadits ini terdapat janji Allah ‘Azza wa Jalla bahwa bagi orang-orang yang berjalan dalam rangka menuntut ilmu syar’i, maka Allah akan memudahkan jalan baginya menuju Surga.

“Berjalan menuntut ilmu” mempunyai dua makna:
Pertama : Menempuh jalan dengan artian yang sebenarnya, yaitu berjalan kaki menuju majelis-majelis para ulama. 

Kedua : Menempuh jalan (cara) yang mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu seperti menghafal, belajar (sungguh-sungguh), membaca, menela’ah kitab-kitab (para ulama), menulis, dan berusaha untuk memahami (apa-apa yang dipelajari). Dan cara-cara lain yang dapat mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu syar’i.

“Allah akan memudahkan jalannya menuju Surga” mempunyai dua makna. Pertama, Allah akan memudah-kan memasuki Surga bagi orang yang menuntut ilmu yang tujuannya untuk mencari wajah Allah, untuk mendapatkan ilmu, mengambil manfaat dari ilmu syar’i dan mengamalkan konsekuensinya. Kedua, Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga pada hari Kiamat ketika melewati “shirath” dan dimudahkan dari berbagai ketakutan yang ada sebelum dan sesudahnya. Wallaahu a’lam (http://almanhaj.or.id/content/2307/slash/0/menuntut-ilmu-jalan-menuju-surga/)

Dengan melihat keutamaan menuntut Ilmu tersebut, selayaknyalah kita sebagai Muslim akan lebih ringan jalan kita, niat kita untuk berjalan - jalan menuju majelis - majelis Ilmu. Karena Agama kita ini, Agama Islam ini dibangun di atas Ilmu

Baca Selengkapnya ....

Nasihat Luqman Kepada Anaknya

Posted by Abu Mumtazah 0 komentar

Pendidikan anak dalam Islam merupakan hal yang sangat penting. Allah telah banyak  mengkabarkan kepada kita bagaimana pendidikan anak dalam keluarga. Hal ini tertuang di dalam Al Qur'an mengenai Nasihat Luqman kepada Anaknya. Juga hal ini telah dijelaskan oleh suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang juga telah memberikan contoh melalui perbuatan maupun pengajaran secara langsung. Sebagai seorang muslim maka hendaknya kita sangat memperhatikan Pendidikan Islam Anak kita. 

Allah telah berfirman mengenai nasihat Luqman kepada Anaknya : 
31:13





Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya pada waktu ia memberinya pelajaran, "Hai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar merupakan kezaliman yang besar. (QS Luqman 31: 13)

Dalam kutipan ayat Al Qur'an diatas dapat kita tangkap bahwa hendaknya bagi orang tua yang pertama kali pendidikan yang diajarkan kepada anaknya adalah Tauhid atau Akidah. Bagaimana bertauhid yang benar dan menjauhi perbuatan Syirik, karena Syirik merupakan kezhaliman yang besar. Syirik ini tidak ada dosa yang lebih besar dan lebih buruk daripadanya, baik dalam hak Rububiyah Allah, Uluhiyah maupun Asma' wa Sifat. Keimanan seorang muslim tidak akan lurus jika masih tercampur perbuatan syirik ini.

Allah berfirman : 
4:48






Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An Nisaa : 48)

Hal ini menunjukkan bahwa sangat pentingnya pendidikan Tauhid untuk anak-anak kita. Karena Islam adalah agama yang Tauhid, mengesakan Allah. Maka semestinya Pendidikan Anak dalam hal tauhid atau akidah ini merupakan prioritas utama kita. Karena di Zaman sekarang ini telah banyak penyimpangan - penyimpangan dalam hal Tauhid di negara kita ini. Lihat saja berapa banyak dari masyarakat kita yang masih hobi datang ke dukun dukun, berapa banyak anak - anak muslim kita yang masih gemar ramal meramal melalui Zodiak (ilmu nujum). Hal ini menandakan bahwa banyak diantara kita yang kurang mementingkan Pendidikan Islam Anak dalam hal Tauhid. 

Pendidikan Tauhid ini juga dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau menasihati sepupunya 'Abdullah bin 'Abbas radhiallahu 'anhuma yang saat itu umurnya masih sangat belia (umur beliau ketika saat itu kurang dari 15 tahun). 

'Abdullah bin 'Abbas radhiallahu 'anhuma berkata, yang artinya : "Pada suatu hari aku pernah dibonceng oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau bersabda : "Wahai anak kecil, sesungguhnya aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa kalimat, 'Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya kamu akan mendapati-Nya didepanmu. Jika kamu ingin meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika kamu ingin memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya jika seluruh umat bergabung untuk memberikan sebuah manfaat kepadamu, mereka semua tidak akan bisa memberikan manfaat itu kecuali jika Allah telah menetapkannya untukmu. Dan jika mereka semua bergabung untuk memberikan sebuah mudharat / bahaya kepadamu, maka semua tidak akan bisa memberikan mudharat itu kecuali jika Allah telah menetapkan (pula) untukmu. Pena telah diangkat, dan buku catatan (amal) telah kering.'" (HR at Tirmidzi [4/667 no. 2516] dan lain-lain, Status hadits ini SHAHIH. Shahih Sunan at Tirmidzi [2/610])


Baca Selengkapnya ....

Wahai Saudari Muslimah, siapakah yang menyuruhmu untuk berjilbab?

Posted by Abu Mumtazah Kamis, 04 Oktober 2012 0 komentar
Untukmu ukhti muslimah…
kemana akan kau bawa dirimu?
kepada gemerlapnya dunia?
gemilaunya harta?
atau pada ketampanan seorang pria?
walaupun kau harus membuka hijabmu
demi mendapat semua yang kau inginkan,
maka kehinaan yang kau dapatkan!
Wahai Saudari Muslimah, siapakah yang munyuruhmu untuk berhijab?

Untukmu ukhti muslimah…
kemana akan kau bawa dirimu?
kepada kemuliaan jiwa?
kepada keridhaan sang pencipta?
atau mulianya menjadi bidadari surga?
walaupun hinaan dan cacian yang harus kau terima
demi menjaga hijab yang telah disyariatkan oleh agama,
maka kebahagiaan yang akan kau dapatkan!
Katakan TIDAK pada gemerlapnya dunia!
jika hijabmu harus terlepas karenanya
katakan TIDAK pada kemilaunya harta!
jika hijabmu harus menjadi tebusannya
karena hijabmu,
adalah benteng kemuliaan dirimu

bahwasannya yang menyuruhmu untuk berjilbab
yang menyuruhmu untuk berbusana muslimah
yang menyuruhmu ialah Allah dan Rasul-NYa
dan konsekwensi kita sebagai seorang muslim maupun muslimah
wajib untuk taat pada Allah Ta’ala
karena Allah yang menciptakan kita
Allah yang memberikan rizki pada kita
Allah yang memberikan segalanya kepada kita
Al-Qur’an menyuruh kita untuk berhijab
Allah yang menciptakan kita yang menyuruh kita untuk berjilbab!

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”
(QS.al-Ahzab:59)

Jika seandainya manusia (wanita muslimah) tidak berbusana Muslimah, tidak berjilbab,
maka manusia ini akan rusak dan hancur, akan binasa.”
Setiap wanita, TIDAK ADA UDZUR (tidak ada alasan) untuk tidak memakai busana muslimah.

(Dikutip dari nasihat Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah di Radio Rodja 756 AM)

Baca Selengkapnya ....
Jual Jilbab Syar'i, Gamis Akhwat dan Ikhwan dll support Jual Mainan Anak Playpad - Original design by Bamz | Copyright of Faidah Kajian Sunnah .