Yang Kadang Terlupakan Oleh Kedua Orang Tua : Ternyata Mencium Anak-Anak Mendatangkan Rahmat Allah !!

Posted by Abu Mumtazah Kamis, 21 Februari 2013 0 komentar

Sering kita dapati seseorang yang mendidik anaknya dengan cara yang keras…dengan menggunakan pukulan..bahkan tendangan…

Bahkan jika tangannya telah lelah memukul maka iapun menggunakan tongkat atau cambuk untuk memukul anaknya. Sementara jika bertemu dengan sahabat-sahabatnya jadilah ia orang yang paling lembut dan ramah.

Memang benar bahwa boleh bagi seorang ayah atau ibu untuk mendidik anaknya dengan memukul, akan tetapi hal itu keluar dari hukum asal. Karena hukum asal dalam mendidik…bahkan dalam segala hal adalah dengan kelembutan. Kita –sebagai orang tua- tidak boleh berpindah kepada metode pemukulan kecuali jika kondisinya mendesak. Itupun tidak boleh dengan pemukulan yang semena-mena, semau kita, seperti pukulan yang menimbulkan bekas…terlebih lagi yang mematahkan tulang…

Sering syaitan menghiasi para orang tua dengan  menjadikan mereka menyangka bahwa metode kekerasan dalam mendidik anak-anak adalah metode yang terbaik dan praktis serta metode yang singkat dan segera mendatangkan keberhasilan. Karena dengan kekerasan dalam sekejap sang anak menjadi penurut. '

Ingatlah ini semua hanyalah was-was syaitan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda :

"Tidaklah kelembutan pada sesuatupun kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatupun kecuali akan memperburuknya" (Dishahihkan oleh Al-Albani)

Memang benar…jika seorang anak disikapi keras maka ia akan nurut dan patuh…akan tetapi hanya sekejap dan sementara…

Kenyataan yang ada menunjukan bahwa jika seorang ayah atau ibu yang senantiasa memukuli dan mengerasi anak-anak mereka akan menimbulkan dampak buruk:
  • Jadilah kedua orang tua tersebut berhati keras…, hilang kelembutan dari mereka, karena mereka telah membiasakan kekerasan dalam hati mereka
  • Bahkan anak-anak mereka yang sering mereka pukuli pun menjadi keras…, keras dan kasar sikap mereka dan juga keras hati mereka.
  • Bahkan tidak jarang sang anak yang dikerasi maka semakin menjadi-jadi keburukannya.  Terutama jika sang anak merasa aman dari control kedua orang tuannya. Hal ini menunjukan sikak keras terhadap seringnya tidak membuahkan keberhasilan dalam mendidik anak-anak
  • Kalaupun metode kekerasan berhasil merubah sang anak menjadi seorang anak yang "tidak nakal" maka bagaimanapun akan berbeda hasilnya dengan seorang anak yang dibina dengan kelembutan. Seorang anak yang "tidak nakal" yang merupakan buah metode kekerasan tidak akan memiliki kelembutan dalam sikap dan tutur kata serta kelembutan hati yang dimiliki oleh seorang anak yang dididik dengan penuh kelembutan.

Adapun jika kedua orang tua bersikap lembut kepada anak-anak mereka, dan tidak memukul kecuali dalam kondisi terdesak, sehingga tidak keseringan…maka akan menimbulkan banyak dampak positif, diantaranya :
  • Kedua orang tua tetap bisa menjaga kelembutan hati keduanya
  • Kelembutan hati anak-anak mereka juga bisa terjaga, demikian pula akhlak anak-anak mereka menjadi akhlak yang mulia. Karena mereka telah meneladani kedua orang tua mereka yang selalu bersikap lembut dan sayang kepada mereka
  • Anak-anak tatkala telah dewasa maka yang mereka selalu kenang adalah kebaikan, kelembutan, ciuman kedua orang tua mereka yang telah bersabar dalam mendidik mereka. Jadilah mereka anak-anak yang berbakti yang selalu ingin membalas budi kebaikan kedua orang tua mereka.
  • Kedua orang tua akan mendapatkan rahmat Allah dan ganjaran dari Allah karena sikap lembut mereka kepada anak-anak mereka

Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- berkata :

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin 'Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro' bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro' berkata, "Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallampun melihat kepada Al-'Aqro' lalu beliau berkata, "Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati" (HR Al-Bukhari no 5997 dan Muslim no 2318)

Dalam kisah yang sama dari 'Aisyah –semoga Allah meridhoinya- ia berkata :

"Datang seorang arab badui kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata, "Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki?, kami tidak mencium mereka". Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa rahmat/sayang dari hatimu" (HR Al-Bukhari no 5998 dan Muslim no 2317)

Ibnu Batthool rahimahullah berkata, "Menyayangi anak kecil, memeluknya, menciumnya, dan lembut kepadanya termasuk dari amalan-amalan yang diridhoi oleh Allah dan akan diberi ganjaran oleh Allah. Tidakkah engkau perhatikan Al-Aqro' bin Haabis menyebutkan kepada Nabi bahwa ia memiliki 10 orang anak laki-laki tidak seorangpun yang pernah ia  cium, maka Nabipun berkata kepada Al-Aqro' ((Barang siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayang)).

Maka hal ini menunjukan bahwa mencium anak kecil, menggendongnya, ramah kepadanya merupakan perkara yang mendatangkan rahmat Allah. Tidak engkau perhatikan bagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menggendong (*cucu beliau) Umaamah putrinya Abul 'Aash (*suami Zainab putri Nabi) di atas leher beliau tatkala beliau sedang sholat?, padahal sholat adalah amalan yang paling mulia di sisi Allah dan Allah telah memerintahkan kita untuk senantiasa khusyuk dan konsentrasi dalam sholat. Kondisi Nabi yang menggendong Umaamah tidaklah bertentangan dengan kehusyu'an yang diperintahkan dalam sholat. Nabi kawatir akan memberatkan Umaamah (*si kecil cucu beliau) kalau beliau membiarkannya dan tidak digendong dalam sholat.

Pada sikap Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ini merupakan teladan yang paling besar bagi kita, maka hendaknya kita meneladani beliau dalam menyayangi anak-anak baik masih kecil maupun yang besar, serta berlemah lembut kepada mereka" (Syarh Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Batthool, 9/211-212)

Syaikh Ibnu Al-'Utsaimin rahimahullah berkata, "Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ (Barangsiapa yang tidak merahamati maka tidak dirahmati), yaitu barangsiapa yang tidak merahmati manusia maka ia tidak akan dirahmati oleh Allah Azza wa Jalla –kita berlindung kepada Allah akan hal ini-, serta Allah tidak memberi taufiq kepadanya untuk merahmati. Hadits ini menunjukan bahwa bolehnya mencium anak-anak kecil karena rahmat dan sayang kepada mereka, apakah mereka anak-anakmu ataukah cucu-cucumu dari putra dan putrimu atau anak-anak orang lain. Karena hal ini akan mendatangakna rahmat Allah dan menjadikan engkau memiliki hati yang menyayangi anak-anak. Semakin seseorang rahmat/sayang kepada hamba-hamba Allah maka ia semakin dekat dengan rahmat Allah. Bahkan Allah mengampuni seorang wanita pezina tatkala wanita pezina tersebut merahmati seekor anjing yang menjilat-jilat tanah karena kehausan…

Jika Allah menjadikan rasa rahmat/kasih sayang dalam hati seseorang maka itu merupakan pertanda bahwa ia akan dirahmati oleh Allah…"

"Maka hendaknya seseorang menjadikan hatinya lembut, ramah, dan sayang (kepada anak-anak), berbeda dengan kondisi sebagian orang bodoh. Bahkan tatkala anaknya yang masih kecil menemuinya sementara ia sedang di warung kopi maka iapun membentak dan mengusir anaknya. Ini merupakan kesalahan. Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik dan mulia akhlak dan adabnya. Suatu hari beliau sedang sujud –tatkala beliau mengimami para sahabat- maka datanglah Al-Hasan bin Ali bin Abi Thoolib, lalu –sebagaiman sikap anak-anak-, Al-Hasanpun menaiki pundak Nabi yang dalam kondisi sujud. Nabipun melamakan/memanjangkan sujudnya. Hal ini menjadikan para sahabat heran (*mereka berkata :

"Wahai Rasulullah, engkau telah memperpanjang sujudmu, kami mengira telah terjadi sesuatu atau telah diturunkan wahyu kepadamu"-pen),

Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada mereka,

"Bukan…, akan tetapi cucuku ini menjadikan aku seperti tunggangannya, maka aku tidak suka menyegerakan dia hingga ia menunaikan kemauannya" (*HR Ahmad no 16033 dengan sanad yang shahih-pen dan An-Nasaai no 1141 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Yaitu aku tidak ingin segera bangkit dari sujudku hingga ia menyelesaikan keinginannya. Ini buah dari rasa kasih sayang.

Pada suatu hari yang lain Umamah binti Zainab putri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang masih kecil dibawa oleh Nabi ke masjid. Lalu Nabi sholat mengimami para sahabat dalam kondisi menggendong putri mungil ini. Jika beliau sujud maka beliau meletakkannya di atas tanah, jika beliau berdiri maka beliau menggendongnya. Semua ini beliau lakukan karena sayang kepada sang cucu mungil. Padahal bisa saja Nabi memerintahkan Aisyah atau istri-istrinya yang lain untuk memegang cucu mungil ini, akan tetapi karena rasa kasih sayang beliau. Bisa jadi sang cucu hatinya terikat senang dengan kakeknya shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Nabi ingin menenangkan hati sang cucu mungil.

Pada suatu hari Nabi sedang berkhutbah, lalu Al-Hasan dan Al-Husain (*yang masih kecil) datang memakai dua baju –mungkin baju baru-. Baju keduanya tersebut kepanjangan, sehingga keduanya tersandung-sandung jatuh bangun tatkala berjalan. Maka Nabipun turun dari mimbar lalu menggendong keduanya dihadapan beliau (*di atas mimbar) lalu beliau berkata:

"Maha benar Allah…"Hanyalah harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah", aku melihat kedua anak kecil ini berjalan dan terjatuh, maka aku tidak sabar hingga akupun memutuskan khutbahku dan aku menggendong keduanya" (HR At-Thirmidzi no 2969 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Kemudian beliau melanjutkan khutbah beliau (*lihat HR Abu Dawud no 1016 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Yang penting  hendaknya kita membiasakan diri kita untuk menyayangi anak-anak, demikian juga menyayangi semua orang yang butuh kasih sayang, seperti anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang lemah (tidak mampu) dan selain mereka. Dan hendaknya kita menjadikan dalam hati kita rasa rahmat (kasih sayang) agar hal itu menjadi sebab datangnya rahmat Allah bagi kita, karena kita juga butuh kepada rahmat" (dari Syarah Riyaad As-Shoolihiin, dengan sedikit perubahan)

Sungguh mulia akhlak Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada anak-anak…beliau menggendong anak-anak…bahkan dalam sholat beliau, karena kasih sayang kepada anak-anak …mencium anak-anak adalah ibadah…mendatangkan rahmat Allah. Bahkan beliau pernah berjalan cukup jauh hanya untuk mencium putra beliau Ibrahim.

Anas Bin Malik –semoga Allah meridhoinya- berkata :

"Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih sayang kepada anak-anak dari pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Putra Nabi (yang bernama) Ibrahim memiliki ibu susuan di daerah Awaali di kota Madinah. Maka Nabipun berangkat (*ke rumah ibu susuan tersebut) dan kami bersama beliau. lalu beliau masuk ke dalam rumah yang ternyata dalam keadaan penuh asap. Suami Ibu susuan Ibrahim adalah seorang pandai besi. Nabipun mengambil Ibrahim lalu menciumnya, lalu beliau kembali" (HR Muslim no 2316)

Karenanya…bersabarlah wahai para orang tua dalam mendidik anak kalian…sayangilah mereka…peluklah mereka…ciumlah mereka….semuanya akan mendatangkan pahala dan rahmat Allah.   



Baca Selengkapnya ....

Surat Al-Ikhlas Sebanding Dengan Sepertiga Al-Qur’an

Posted by Abu Mumtazah Selasa, 19 Februari 2013 0 komentar
Disebutkan dalam haits shahih :
“Dari Abi Sa’id al-Kudri, bahwasannya ada orang mendengar seseorang membaca “Qulhuwallahu Ahad”, dan di ulang-ulang. Pada keesokan harinya, ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaporkannya, seakan ia menganggap remeh. Maka Rasulullah bersabda: “Demi dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, ia sebanding dengan sepertiga al-Qur’an”. (Shahih Bukhori, no. 5013).

“Dari Abi Sa’id, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatya, ‘apakah salah seorang dari kalian mampu untukmembaca sepertiga al-Qur’an dalam satu malam?.’ Maka hal ini memberatkan mereka, mereka bertanya: ‘Siapakah diantara kami yang mampu, wahai Rasulullah?’Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: ‘Allahul-Wahidu shamad adalah sepertiga al-Qur’an’”. (Shahih Bukhori no. 5015).

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Maksudnya, ialah, bahwa al-Qur’an di turunkan menjadi tiga bagian. Sepertiga bagian adalah hukum-hukum, sepertiga berisi janji dan ancaman, dan sepertiga bagiannya terdiri nama dan Sifat Allah; dan surat ini mengumpulkan antara nama dan sifat-sifat (Allah)”. (Jawab ‘alil-Ilmi wal-Iman, hal. 113).

Syaikhul Islam juga berkata: “apabila (Qulhuwallahu Ahad) sebanding dengan sepertiga al-Qur’an, bukan berarti ia lebih utama dari al-Fatihah; dan tidak pula mencukupkan diri membaca al-Qur’an dengan membacanya sebanyak tiga kali. Akan tetapi, apabila dibaca (Qulhuwallahu Ahad) terpisah sebanyak tiga kali atau lebih dari itu, maka pembacanya mendapatkan pahala yang sebanding dengan sepertiga al-Qur’an, namun perbandingan sesuatu bukanlah dari jenisnya”. (Jawab ‘alil-Ilmi wal-Iman, hal. 133-134).

Ketika surat ini dibaca saat meruqyah, didapatkan adanya perbedaan pengaruh yang di timbulkan, antara satu orang dengan yang lain tidak sama, yang ini berpengaruh dan yang ini tidak ada pengaruhnya. Dalam hal ini Syaikhul Islam berkata : “Tidaklah (Qulhuwallahu Ahad) setiap orang bermanfaat untuk setiap orang”. (Jawab ‘alil-Ilmi wal-Iman, hal. 141).

Syaikh Abdurrozaq menjelaskan, “Sungguh ada perbedaan pengaruh bacaan yang di baca, walau surat yang di baca sama, karena adanya pengaruh hati si pembaca dari kejujuran, keikhlasan, penghayatan, keyakinan, harapan dan ke kekhusyuan..”. (Ustadz Mu’tasim).
Disadur dari Fiqh al-Idiyyah wal-Adzkar, Syaikh Abdurrozaq bin ‘Abdil Muhsin al-‘Abbad 1/89-93.

Sumber : Majalah As Sunnah Edisi 03/Tahun XII.

Baca Selengkapnya ....

Gengsi Tapi Sangat Terpuji

Posted by Abu Mumtazah Rabu, 06 Februari 2013 0 komentar

Gengsi tidak selamanya tercela. Ada juga yang terpuji. Gengsi saat menerima kebenaran sangatlah tercela. Namun genggsi saat  saat meminta hajat kepada manusia, amatlah terpuji. Berikut ini sebagian gengsi terpuji ala salafussholih.

Tersebutlah Hakim bin Hizam radhiallahu ‘anhu bin Khuwailid, istri pertama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masuk Islam menjelang penaklukan kota Mekkah (pada 8 H). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberinya 100 ekor unta dari ghanimah yang beliau dapatkan seusai perang Hunain. Beliau konon 12 tahun lebih tua daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan wafat 44 tahun sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Urwah bin Zubeir dan Sa’id bin Musayyib meriwayatkan, Hakiem bin Hizam radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Aku pernah meminta uang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memberiku. kemudian aku minta uang lagi,dan beliau kembali memberiku. Untuk ketiga kalinya, aku minta uang lagi, dan beliau memberi lagi. Kemudian beliau bersabda, “Hai Hakiem, harta memanglah indah dan manis. Barangsiapa mengambilnya tnpa meminta berulang kali dan tanpa rasa tamak, ia akan mendapatkan berkahnya. Namun barangsiapa mengambilnya dengan penuh ambisi dan rasa tamak, maka tidak akan mendapatkan berkahnya. Namun barangsiapa yang mengambilnya dengan penuh ambisi dan rasa tamak, maka tidak akan mendapat berkahnya. Ibarat orang yang makan namun tidak kenyang-kenyang. Dan tangan yang diatas lebih baik daripada yang dibawah.” “Wahai Rasulullah demi yang mengutusmu dengan kebenaran, aku takkan meminta sesuatu kepadapun setelahmu, sampai aku berpisah dengan dunia” kata Hakiem.

Hari-haripun berlalu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tiada dan kekhalifahan beralih ketangan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu. Sebagai kepala negara, kesejahteraan rakyat menjadi perhatian utamanya. Khalifah yang adil dan zuhud inipun memanggil satu per satu sahabat Rasulullah yang masih hidup, lalu memberi mereka santunan dari baitul mal. Abu Bakar radhiallallhu ‘anhu memanggil Hakiem agar menerima bagiannya dari baitul mal. Namun Hakiem radhiallahu ‘anhu menolaknya. Dua tahun kemudian masa kekhalifahan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berlalu.

Yang menggantikan adalah Umar bin Khoththob radhiallallahu ‘anhu sebagai Amirul Mukminin. Umar radhiallahu ‘anhu juga memerhatikan kesejahteraan para sahabat, termasuk Hakiem bin Hizam radhiallahu ‘anhu. Umar radhiallahu ‘anhu pun memanggil Hakiem radhiallahu ‘anhu untuk menerima santunan. Namun Hakiem radhiallahu ‘anhu tetap saja tak mau mengambil sepeserpun. Maka Umar radhiallahu ‘anhu berkata kepada para sahabatnya, “Saksikanlah oleh kalian wahai kaum muslimin, bahwa aku telah menyerahkan bagiannya dari baitul mal, namun ia tak mau mengambilnya”. Demikianlah sikap Hakiem bin Hizam radhiallahu ‘anhu yang tetap gengsi untuk meminta sesuatu kepada siapapun sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai beliau wafat. Inti kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no. 1472) dan Muslim (no. 1035) dalam As Shahihain.

Berbaiat Untuk Gengsi
Mungkin anda heran membaca judul tulisan ini. Sayapun demikian. Akan tetapi hadits berikut benar-benar menunjukkan gengsi seperti ini adalah amal shaleh yang sangat besar pahalanya. Namun juga sangat jarang diamalkan, bahkan direnungkan. Jangankan oleh para santri dan tholabul ‘ilmi, alim ulama dan kyai saja hampir tak ada yang mengamalkannya.

Sahabat ‘Auf bin Malik Al Asyja’iy radhiallahu ‘anhu mengatakan, “kami pernah berkumpul dengan Rasulullah, antara tujuh hingga sembilan orang. Katika itu kami baru saja membaiat beliau, namun beliau berkata, “Tidakkah kalian berbaiat kepada Rasulullah?” “Kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah” sahut kami. “Tidakkah kalian membaiat Rasulullah?” tanya beliau lagi.”Kami telah membaiatmu wahau Rasulullah!” sahut kami lagi. “Tidakkah kalian membaiat Rasulullah?” tanya beliau lagi. Maka kami ulurkan tangan kami seraya berkata, “Kami telah membaiatmu wahau Rasulullah. Lalu dalam rangka apa kami harus berbaiat lagi?”
“Berbaiatlah dalam rangka mengabdi kepada Allah tanpa menyekutukan sesuatupun dengan-Nya, dalam rangka menegakkan shalat lima waktu, taat kepada pemimpin, dan –sembari melirihkan suaranya- jangan meminta sesuatupun kepada manusia,” lanjut Rasulullah.

Alangkah beratnya baiat ini. Tak meminta sesuatupun kepada manusia. Mana mungkin? Ini hampir mustahil untuk bisa diwujudkan. Namun tidak ada yang mustahil bagi para sahabat bila Allah yang memberi taufiq. Bukan hanya gengsi meminta harta. Bahkan minta tolong dalam hal yang sepele pun mereka hindari, selagi mereka mampu melakukannya sendiri.

Auf bin Malik melanjutkan, “Sungguh, aku pernah menyaksikan salah satu dari mereka yang berbaiat tadi, saat cemetinya terjatuh, dan ia berada diatas tungganggannya. Ia tidak minta tolong kepada seorangpun agar cemeti tadi untuknya.” (HR. Muslim, No. 1043). Perlu dicatat untuk mengambil cemeti yang jatuh, ia harus turun dari tunggangannya lalu melompat dan naik lagi. Ini jelas lebih merepotkan daripada sekadar “minta tolong” diambilkan, jadi pantaslah jika pahala amal shaleh mereka yang kelihatan “tak seberapa” dilipat gandakan luar biasa oleh Allah ta’ala.

Pantaslah jika sedekah mereka yang hanya segenggam atau setengahnya, lebih besar pahalanya daripada sedekah kita yang sebesar gunung Uhud, karena mereka jauh lebih teguh dalam mewujudkan konsekwensi dari iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’ien. Hanya kepada-Mu kami mengabdi, dan Hanya kepada-Mu kami minta tolong. Inilah rahasia kehebatan amal mereka. Sedangkan kita hanya pandai mengulang-ulangnya 17 kali tiap hari, tanpa memahami konsekuensinya. Apalagi mengamalkan. Nastaghfirullaaha wa natuubu ilaihi.

Lantas bagaimana dengan para tabi’in? Simaklah kisah berikut yang sekaligus menutup artikel ini, yakni mengenai sesuatu yang mudah ditulis namun sangat berat untuk diamalkan.

Dalam kitab al-Mujalasah, ad-Dinawari meriwayatkan dengan sanadnya dari Sufyan bin ‘Uyainah, bahwa khalifah Hisyam bin Abdil Malik pernah masuk ke kabah. Tiba tiba, beliau mendapati Salim bin Abdillah bin Umar di dalam kabah. Beliau adalah putra Ibnu Umar yang paling mirip dengan ayahnya. Sedangkan sahabat Ibnu Umar adalah putera Umar bin Khaththob radhiallahu ‘anhu yang paling mirip dengan ayahnya. Salim termasuk salah satu dari 7 fuqaha kota Madinah di zamannya., yang terkenal dengan keilmuan, ketaqwaan, dan sikap zuhudnya. Beliau wafat pada 106/107 H.

“Hail Salim, sampaikan keinginanmu kepadaku,” kata Hisyam.
“Aku malu kepada Allah untuk meminta di Rumah-Nya kepada selain-Nya,” jawab Salim.
Tak lama berselang, Salim keluar dari kabah, dan Hisyam kembali membuntutinya sambil mengingatkan. “Nah, sekarang kamu sudah keluar, maka mintalah kebutuhanmu kepadaku,” kata Hisyam.

“Hajat duniawi atau ukhrawi?” tanya Salim.

“Hajat duniawi tentunya,” jawab Hisyam.

“Sungguh demi Allah, aku tidak pernah meminta dunia kepada yang menguasainya (Allah), lantas bagaimana aku hendak meminta kepada yang tidak menguasainya?” jawab Salim. (Mujalasah wa Jawahirul ‘Ilm oleh Ahmad bin Mirwan Ad Dinawari No 80, dengan sanad yang shahih).

Subhanallah, tawaran manis penguasa negara ditolaknya. Padahal, kalau pun Salim menyebutkan hajat duniawinya, toh itu juga karena perintah khalifah, dan bukan beliau yang memulai. Tetapi itulah gengsi ala para ulama masa silam (salafus shalih) yang sangat terpuji. Sesuai dengan konsekuensi tauhid yang mereka ulang setiap hari. Mampukah kita meneladani mereka? Semoga.

Sumber : Sufyan Baswedan, M.A., Majalah Pengusaha Musli Edisi 28. 

Baca Selengkapnya ....
Jual Jilbab Syar'i, Gamis Akhwat dan Ikhwan dll support Jual Mainan Anak Playpad - Original design by Bamz | Copyright of Faidah Kajian Sunnah .